Ada dua kalimat yang baik dari manna sorgawi yang nyantol di hati saya: "Lebih baik memiliki sejumlah ide meskipun sebagiannya salah, daripada harus selalu benar namun tidak memiliki ide apa pun." -Edward de Bono. "Tidak melakukan apa-apa, tidak kehilangan apa-apa, dan tidak jadi siapa-siapa." Dan ada satu kalimat yang baik yang saya dengar dari Ibu Iin Tjipto di radio talitakum FM 108: "Beriman adalah ketika kita merasakan sakit (berdasarkan contoh yang diberikan,sakit ini berupa sakit fisik maupun non fisik), kita berseru kepada Tuhan dan mengatakan 'terima kasih' Tuhan!"
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 September 2013
Angkat Jangkar dan Mari Berlayar
Masyarakat pada umumnya, mengukur kesuksesan seseorang melalui seberapa banyak uang yang dimiliki orang tersebut, seberapa pengetahuan rohaninya, seberapa pintar otaknya, seberapa cepat caranya menanggapi sesuatu, atau seberapa ahli dia dalam apa yang dikerjakannya. Maka secara otomatis penghargaan datang dari sana sini, setelah ia 'bersinar'. Tapi banyak orang tidak peduli bagaimana orang lain mencapai kesuksesannya; apakah dengan cara yang benar atau tidak, sportif atau tidak. Sehingga pada puncak kejayaan seseorang, ada banyak yang menyoroti dan memberitakan di media sosial, tapi setelah dan sebelumnya, tidak ada yang peduli. Tidak terlalu ingin dimengerti karena memang tidak menyenangkan hati dan mungkin juga tidak semenarik yang dibayangkan (menurut saya, sebagian besar orang seringkali merasa sulit 'belajar' karena itu mereka sulit berubah). Orang hanya peduli ketika dia di atas. Namun perjalanan ke sana seringkali 'disembunyikan'. Akibatnya; orang lain yang merasa tidak 'sehebat' atau 'seberhasil' orang tersebut di atas, merasa berat melangkah untuk menunjukkan diri apa adanya. Kenapa? karena takut gagal; gagal dihargai, gagal 'diagungkan', gagal diperhatikan hasil kerjanya oleh orang lain (menurut Maxwell dalam buku Be All You Can Be, ada juga orang yang ternyata takut untuk sukses dan terkenal)- kegagalan yang pada dasarnya adalah lebih bersifat psikologi yang tidak kasat mata daripada kegagalan yang bersifat kuantitatif (bisa dihitung-dalam keuangan bisnis misalnya)- yang rupanya menjadi sebuah jangkar dalam diri seseorang untuk 'mandeg' (berhenti). Padahal Tuhan memberi kita paling sedikit satu talenta untuk dikembangkan. Satu talenta yang dikerjakan dengan baik akhirnya kita menemukan talenta kita yang lain dan menjadi untaian talenta yang hanya menjadi milik kita secara pribadi (individu).
Ada dua kalimat yang baik dari manna sorgawi yang nyantol di hati saya: "Lebih baik memiliki sejumlah ide meskipun sebagiannya salah, daripada harus selalu benar namun tidak memiliki ide apa pun." -Edward de Bono. "Tidak melakukan apa-apa, tidak kehilangan apa-apa, dan tidak jadi siapa-siapa." Dan ada satu kalimat yang baik yang saya dengar dari Ibu Iin Tjipto di radio talitakum FM 108: "Beriman adalah ketika kita merasakan sakit (berdasarkan contoh yang diberikan,sakit ini berupa sakit fisik maupun non fisik), kita berseru kepada Tuhan dan mengatakan 'terima kasih' Tuhan!"
-by Neti Estin
Ada dua kalimat yang baik dari manna sorgawi yang nyantol di hati saya: "Lebih baik memiliki sejumlah ide meskipun sebagiannya salah, daripada harus selalu benar namun tidak memiliki ide apa pun." -Edward de Bono. "Tidak melakukan apa-apa, tidak kehilangan apa-apa, dan tidak jadi siapa-siapa." Dan ada satu kalimat yang baik yang saya dengar dari Ibu Iin Tjipto di radio talitakum FM 108: "Beriman adalah ketika kita merasakan sakit (berdasarkan contoh yang diberikan,sakit ini berupa sakit fisik maupun non fisik), kita berseru kepada Tuhan dan mengatakan 'terima kasih' Tuhan!"
Label:
Be All You Can Be,
belajar,
beriman,
berlayar,
bisnis,
Iin Tjipto,
jangkar,
kegagalan,
kesuksesan,
manna sorgawi,
Maxwell,
psikologi,
radio talitakum,
renungan,
talenta
Minggu, 14 Oktober 2012
Renungan Bulan Keluarga 15-19 Oktober 2012
Keluarga
yang Hangat, Penuh Perhatian, dan Saling Mendukung
Pengantar
Keluarga adalah tempat dimana kita bertumbuh dan terbentuk. Di
dalam keluargalah kita pertama-tama belajar hal-hal baru yang menjadi dasar
segala tingkah laku kita. Apapun kepribadian keluarga kita, kita percaya di
dalam Tuhan pasti ada perubahan ke arah yang lebih baik. Syaratnya adalah
setiap anggota keluarga telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruslamatnya. Dengan
menerima Kristus sebagai Tuhan perubahan akan terjadi dari dalam dan
masing-masing anggota keluarga akan berusaha melakukan yang seharusnya agar
keluarga mereka menjadi keluarga yang ideal; hangat, penuh perhatian, dan
saling mendukung.
Di bawah ini ada beberapa kepribadian keluarga di lihat dari
keseimbangan antara individualitas dan relasi antar anggota-anggotanya, menurut
David Field. Ini diberikan sebagai gambaran dari keluarga seperti apa kita agar
kita dapat melangkah ke arah yang lebih baik. Penting untuk selalu kita ingat
bahwa menjaga HUBUNGAN adalah sasaran kita.
1. Keluarga Seimbang (yang paling ideal); adalah keluarga
yang menghargai identitas diri masing-masing anak dan mendorong anak untuk
mampu berelasi dengan orang lain. Mereka
tidak takut akan perbedaan.
2. Keluarga Kuasa;
adalah keluarga yang tidak menghargai individualitas dan cenderung kasar. Orang
tua memaksakan kekuasaannya. Dan anak-anak tidak merasa dilindungi. Tapi mereka
tahu benar bagaimana menyelesaikan tugas.
3. Keluarga
Protektif; adalah keluarga yang terlalu melindungi anak-anak dimana orang tua
tidak membuat anak menanggung akibat dari perbuatannya.
4. Keluarga Kacau;
adalah keluarga dimana perhatian satu dengan yang lain terbatas. Mereka lebih
merupakan teman sekamar daripada keluarga. Anak-anak disia-siakan atau
diperlakukan kejam.
5. Keluarga
Simbiotis; adalah keluarga yang menganggap bahwa individualitas adalah suatu
bentuk ketidaksetiaan terhadap keluarga. Mereka lemah sebagai individu tapi
kuat sebagai kelompok. Anak-anak merasa tertekan dalam keluarga dan merasa
bersalah jika mereka ingin meninggalkan keluarga (setelah menikah).
6. Keluarga
Traumatis; adalah keluarga manapun (diantara lima di atas), yang di dalamnya,
kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian tertentu sungguh menghalangi
berfungsinya keluarga itu secara efektif. Berdasarkan pengamatan penulis
keluarga tersebut seperti; keluarga alkoholis, hiper-religius, keluarga abusive
(termasuk pelecehan seksual), keluarga miskin.

Neti Estin, MA
Senin, 15 Oktober 2012
Senin, 15 Oktober 2012
Keluarga yang Hangat
Yesaya 58:1-12
Sepasang suami
istri muda pindah ke sebuah kota baru, jauh dari keluarga dan teman-teman.
Pemindah barang tiba; pasangan itu mengeluarkan barang-barang kepunyaan mereka,
dan si suami memulai pekerjaannya pada minggu berikutnya. Setiap hari ketika ia
pulang ke rumah, istrinya menyambutnya di pintu dengan sebuah keluhan baru.
“Disini begitu
panas“
“Tetangga-tetangga
tidak ramah“
“Rumah ini terlalu kecil“
“Anak-anak membuatku pusing“
Dan setiap sore, suaminya akan memeluknya dengan lembut dan
mendengarkan keluh-kesahnya. “Aku ikut bersedih,“ ia akan berkata demikian. “Apa
yang dapat kulakukan untuk membantu?” Istrinya akan melunak dan menghapus air
matanya, hanya untuk mengulangi scenario yang sama sore berikutnya.
Suatu malam suaminya berjalan ke pintu depan dengan sebuah
tanaman bunga yang cantik. Ia menemukan sebidang tanah yang baik di halaman
belakang dan menanam bunga itu. “Sayang,” katanya. “Setiap kali kamu merasa
tidak puas, aku ingin kau pergi dan melihat tamanmu. Bayangkan dirimu sebagai
tanaman bunga yang mungil itu. Dan saksikan bagaimana tamanmu bertumbuh.”
Setiap minggu si suami membawa pulang sebuah tanaman baru,
semak bunga, atau rerumpunan mawar dan menanam mereka di halaman belakang.
Istrinya memotong beberapa bunga dari tanaman-tanaman yang tumbuh itu dan
memberikannya kepada seorang tetangga. Setiap pagi si istri mengairi taman itu dan menilai perkembangannya. Persahabatan
dengan wanita-wanita lain di blok tempat tinggalnya bertumbuh, dan mereka
meminta bantuannya dalam berkebun. Segera, mereka juga mencari nasihat rohani
kepadanya.
Pada akhir tahun
berikutnya, halaman rumah pasangan itu tampak seperti tampilan majalah Better Homes & Gardens (Rumah dan
Taman yang Lebih Baik).
Kehangatan
seorang suami mampu membuka pintu hati istri pada pemahaman baru, ide baru, dan
kesempatan baru untuk melihat dunianya secara berbeda. Kasih sayang seorang
suami kepada istrinya, tidak dapat disangkal, akan mengubah hati istri menjadi
sebuah tanah yang subur bagi bertumbuhnya kasih, kebaikan, dan kepatuhan.
Doa: Supaya kasih
dan kehangatan suami dan istri tidak luntur apapun yang sedang dihadapi
(Cerita diambil dari buku: Di Taman Bersama Tuhan)
(Cerita diambil dari buku: Di Taman Bersama Tuhan)
Kita
menghidupi diri dengan apa yang kita dapatkan. Tetapi kita menganyam kehidupan
dengan apa yang kita berikan. –Winston Churchill
Selasa, 16 Oktober 2012
Keluarga yang Penuh Perhatian
Yoh 9:1-11
Sebuah hubungan
telepon mengubah kehidupan May dan Joe Lamke. Seseorang memohon bantuannya
untuk mengangkat seorang anak. Pengabdiannya sebagai seorang perawat,
dikombinasikan dengan kasih yang lembut dan halus dari wanita Inggris ini bagi
anak-anak, telah memberinya reputasi sebagai pembuat mujizat, salah satu yang
dibutuhkannya untuk tantangan yang dihadapinya hari itu,
Bayi laki-lak
berumur enam bulan bernama Leslie itu dilahirkan sangat terbelakang dan
menderita cerebal palsy (kerusakan otak). Dokter-dokternya telah mengambil
kedua matanya yang rusak parah. May bekerja tanpa kenal lelah dan dengan setia
minggu demi minggu, bulan demi bulan, tanpa perubahan nyata dalam tubuh yang
seperti sayuran itu.
Ia dan suaminya,
meski sudah berusia enampuluhan, masih meneruskan ritual-ritual mereka melatih,
memberi makan, mengajak bicara, dan bahkan memutarkan rekaman musik bagi
Leslie. Saat Leslie berusia tigabelas tahun mereka membeli sebuah piano, dan
May mulai memainkan lagu-lagu sederhana untuk didengar Leslie. Masih saja, tak
ada komunikasi, tak ada ekspresi, tak ada apa pun. Namun saat May berdoa agar
Tuhan memberi Leslie sebuah bakat, kedua orangtua itu melihat intensitas (niat)
yang ditunjukkan Leslie saat ia mendengarkan musik.
Lalu suatu hari
pada usia enambelas tahun, Leslie menyeret dirinya sendiri ke piano di
kamarnya, belum pernah berjalan sebelumnya, belum pernah memainkan satu nada
pun sebelumnya, dan memainkan ”Konser Piano No.1” Karya Tchaikovsky dengan
mulus.
Pasangan Lemkes
mendapati bahwa Leslie dapat memainkan apa saja setelah mendengarkannya hanya
satu kali. Mujizat-mujizat terus berlanjut dan suatu hari pasangan Lemkes
mendengarkan suaranya yang mantap dan bariton menyanyikan lagu ”How Great Thou Art” (Aku Memuji
KebesaranMu). Leslie yang tidak pernah menunjukkan ekspresi apa-apa, akhirnya
menunjukkan emosinya ketika ia menyanyikan lagu ”Amazing Grace” (Ajaib Benar Anugerah). Ia menangis sekeras-kerasnya
dan mengerti bahwa ia adalah manusia berdosa. Setelah itu ia belajar berbicara,
berjalan sendiri, makan sendiri.
Perhatian yang
terus menerus dan keyakinan orangtua akan memunculkan seorang anak yang luar
biasa. Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.
Doa: Terima kasih
untuk anak-anak dalam keluarga kita.
-Kisah nyata ini difilmkan dan
dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=YbMx5jIWMkY dengan judul: ”The Women
Who Willed With A Miracle”
-Konser Leslie Lamke bisa dilihat di:
http://www.wisconsinmedicalsociety.org/_SAVANT/_PROFILES/leslie_lemke/_media/video/1986/video.html,
dan masih
banyak lagi di internet.
Rabu, 17 Oktober 2012
Keluarga
yang Saling Mendukung
Mrk 10:7-9
I have fallen in love
with the same woman three times;
In a day spanning 19 years
of tearful joys and joyful tears.
with the same woman three times;
In a day spanning 19 years
of tearful joys and joyful tears.
I loved her first when she was young,
enchanting and vibrant, eternally new.
She was brilliant, fragrant,
and cool as the morning dew.
enchanting and vibrant, eternally new.
She was brilliant, fragrant,
and cool as the morning dew.
I fell in love with her the second time;
when first she bore her child and mine
always by my side, the source of my strength,
helping to turn the tide.
when first she bore her child and mine
always by my side, the source of my strength,
helping to turn the tide.
But there were candles to burn
the world was my concern;
while our home was her domain.
and the people were mine
while the children were hers to maintain;
the world was my concern;
while our home was her domain.
and the people were mine
while the children were hers to maintain;
So it was in those eighteen years and a day.
’till I was detained; forced in prison to stay.
’till I was detained; forced in prison to stay.
Suddenly she’s our sole support;
source of comfort,
our wellspring of Hope.
on her shoulders felt the burden of Life.
source of comfort,
our wellspring of Hope.
on her shoulders felt the burden of Life.
I fell in love again,
with the same woman the third time.
Looming from the battle,
her courage will never fade
with the same woman the third time.
Looming from the battle,
her courage will never fade
Amidst the hardships she has remained,
undaunted and unafraid.
she is calm and composed,
she is God’s lovely maid.
undaunted and unafraid.
she is calm and composed,
she is God’s lovely maid.
Saya telah jatuh cinta
dengan wanita yang sama tiga kali;
Dalam satu hari mencakup 19 tahun
dari sukacita yang penuh tangisan dan air mata sukacita.
dengan wanita yang sama tiga kali;
Dalam satu hari mencakup 19 tahun
dari sukacita yang penuh tangisan dan air mata sukacita.
Aku mencintainya pertama kali ketika ia masih muda,
mempesona dan bersemangat, selalu baru.
Dia brilian, harum,
dan dingin seperti embun pagi.
mempesona dan bersemangat, selalu baru.
Dia brilian, harum,
dan dingin seperti embun pagi.
Aku jatuh cinta dengannya kedua kali;
ketika ia melahirkan anak kami yang pertama
selalu di sisiku, sumber kekuatanku,
membantu tuk menyurutkan air pasang.
ketika ia melahirkan anak kami yang pertama
selalu di sisiku, sumber kekuatanku,
membantu tuk menyurutkan air pasang.
Tapi ada lilin-lilin membakar
dunia adalah perhatian saya;
ketika rumah kami adalah huniannya.
dan orang-orang milikku
dan anak-anak miliknya terpelihara;
dunia adalah perhatian saya;
ketika rumah kami adalah huniannya.
dan orang-orang milikku
dan anak-anak miliknya terpelihara;
Jadi itu di tahun-tahun kedelapan belas dan
satu hari.
'Sampai aku ditahan, dipaksa untuk tinggal di penjara.
'Sampai aku ditahan, dipaksa untuk tinggal di penjara.
Tiba-tiba dialah satu-satunya dukungan kami;
sumber ketenangan,
mata air Harapan kami.
di atas kedua bahunya terletakkan beban hidup.
sumber ketenangan,
mata air Harapan kami.
di atas kedua bahunya terletakkan beban hidup.
Aku jatuh cinta lagi,
dengan wanita yang sama ketiga kalinya.
Terbayang dari pertempuran,
keberaniannya tidak akan pernah pudar
dengan wanita yang sama ketiga kalinya.
Terbayang dari pertempuran,
keberaniannya tidak akan pernah pudar
Di tengah kesulitan dia tetap ada,
tidak gentar dan tidak takut.
dia tenang dan teratur,
dia adalah hamba Allah yang penuh kasih.
tidak gentar dan tidak takut.
dia tenang dan teratur,
dia adalah hamba Allah yang penuh kasih.
Mungkin Saudara
pernah membaca atau mendengar tentang puisi di atas. Itu adalah puisi yang tertulis
di makam mantan senator Filipina Benigno ‘Ninoy’ Aquino Jr. untuk istrinya yang
juga mantan presiden Filipina Corazon C. Aquino, setelah ia ditembak mati oleh
rezim presiden Ferdinand Marcos. Cinta kasih diantara keduanya sangat kuat seperti dukungan Corazon terhadap
visi suaminya. Corazon terus berjuang untuk demokrasi di Filipina dan akhirnya
ia berhasil menjadi presiden. Bahkan dukungan tidak hanya berasal dari sang
istri, anak-anak mereka pun mendukung perjuangan ayah mereka. Terbukti bahwa
salah satu diantara mereka menjadi presiden yakni Presiden Benigno Aquino III . Satu hal yang saya pelajari, Ninoy
sebelum wafatnya, dari dalam penjara ia selalu menulis surat kepada anak dan
istriya mengenai apa harapan dan cita-citanya. Jadi untuk mendapatkan dukungan,
kita perlu menyampaikan tujuan kita kepada anggota keluarga yang lain serta
diikuti dengan menunjukkan keteladanan dari diri sendiri.
Doa: ”Tuhan
jadikan kami keluarga yang bersatu dan saling mendukung satu dengan yang lain.”
![]() |
Puisi ini kemudian dinyanyikan
oleh Jose Mari Chan dengan judul yang sama:
“I HAVE FALLEN IN LOVE
WITH THE SAME WOMAN THREE TIMES”
bisa dilihat
di:
|
Kamis, 18 Oktober 2012
Masalah-masalah Dalam Keluarga
Kej 27: 6-17
Persoalan
keluarga yang terjadi di dalam rumah pertama-tama adalah karena persoalan
HUBUNGAN itu sendiri. Hubungan setiap anggota keluarga terutama adalah hubungan
suami istri yang buruk, akan menjadi hal yang pertama, yang sedikit-demi
sedikit mengikis kesatuan dan keharmonisan keluarga yang kemudian merabat
kepada hubungan antar anak, serta hubungan anak-anak dengan anggota keluarga
lain (seperti, kakek/nenek, om/tante yang ada di dalam rumah. Bisa jadi juga anggota
itu adalah pembantu yang sudah sangat dipercaya) dan lebih luas lagi kepada
keluarga jauh serta masyarakat di sekitarnya. Sebagai contoh: saya sering kali menonton acara: ’Solusi’
di TV. Dari berbagai cerita, rusaknya hubungan ayah dan ibu (karena pihak
ketiga misalnya) adalah penyebab anak-anak menjadi ’rusak’; kecanduan narkoba,
terjerumus dalam pergaulan bebas, dll. Memang ini tidak bisa menjadi patokan
umum, tapi ini terjadi di dalam keluarga anak-anak Tuhan. Lain lagi sebuah
contoh yang ada dalam buku: ’Liku-liku Problema Rumah Tangga’, hal.89. Ada
seorang gadis yang bercerita kepada penulis bahwa ia sering kali dipukuli oleh
ayahnya (ketika kecil) sampai babak belur dan dimasukkan ke sebuah kotak
tertutup sampai ia minta dikeluarkan. Setelah dewasa ia baru tahu duduk
perkaranya, bahwa jika ibunya tidak mau melayani ayahnya di tempat tidur,
keesokkan harinya ayahnya akan memukuli anak-anaknya sampai babak belur.
Hubungan yang terjalin
pasti memiliki pola seperti menjahit pakaian juga ada polanya. Pola hubungan
Ishak dan Ribka adalah pola yang kurang baik. Dimana mereka memiliki anak kesayangan
masing-masing (Kej 25:28) yang terlihat ’menggantikan komunikasi’ di antara
mereka. Ishak sayang dengan Esau, Ribka kasih dengan Yakub, namun ayah dan ibu
terlihat tidak dekat karena "maksud" ayah tidak disampaikan langsung
kepada ibu atau apa yang diketahui Ribka tidak diberitahukan kepada Ishak
mengenai perkataan Tuhan sebelum Ribka melahirkan, dimana yang tua akan menjadi
hamba yang lebih muda (berbeda dengan hana yang menyampaikan kesusahan hatinya
kepada Elkana suaminya. 1Sam 1:8). Jika ada komunikasi di antara mereka mungkin sekali peristiwa penipuan dan
perpecahan/ perpisahan antara yakub dan Esau itu tidak akan terjadi. Meski pada
akhirnya mereka berbaikan, dua bangsa besar; Israel (keturunan Yakub) dan Edom
(keturunan Esau), selalu berperang.
Kita seharusnya
dapat menghindari berbagai masalah keluarga jika suami-istri memiliki tiga
pilar penyanggah (Intimacy/komunikasi,
passion/kegairahan, commitment/kesetiaan) rumah tangga.
Selain juga tentunya pola hubungan suami-istri yang baik. Pola hubungan
suami-istri yang baik di bawah ini bisa menjaga kita dari berbagai masalah yang
tidak perlu dan yang berkepanjangan. Pola tersebut antara lain adalah kebisaan
dan kebiasaan:
-
Mengekspresikan emosi yang lembut ketika sedang marah.
Ketika marah mengatakan bagaimana ”Saya merasa...” (Mis: ”Saya merasa tidak
disayangi jika kepentinganku tidak didahulukan”) bukan menghakimi ”kamu selalu...!”
(Mis: ”Kamu selalu tidak mau mengerti bahwa jam 7 seharusnya sudah pulang!)
-
Melakukan usaha perbaikan setelah perdebatan atau
pertengkaran. Beberapa keluarga menerapkan pola: ’sebelum selesai duduk perkara masalah, tidak akan melakukan hal yang
lainnya.’
-
Selalu mau ’minta maaf’ tidak hanya setelah
pertengkaran/konflik, tapi juga setiap kali berespon emosional, dan ketika
tidak memahami perasaan pasangan.
-
Menumbuhkan sifat/sikap yang positif sebagai hasil dari
hubungan. Seperti kebiasaan-kebiasaan yang baru: belajar berolah-raga karena
pasangan suka berolah raga, dll.
-
Selalu sensitif terhadap kelemahan masing-masing yang
perlu didukung. Mis: istri selalu susah mengatakan ”tidak” pada permintaan
orang lain, Suami mengingatkan bahwa istri perlu menolak hal yang tidak bisa
ditanganinya.
-
Keterlibatan secara emosional satu dengan yang lain.
Mis.: suami yang gusar mengenai pekerjaannya bercerita kepada istrinya mengapa
ia gusar dan istri mendengarkan bahkan mendoakan, pada saat itu juga berdoa
berdua untuk meminta solusi yang terbaik. Jika memang sangat menyakitkan dan
perlu menangis, menangis bersama.
Pertanyaan :
Apakah tiga pilar dalam pernikahan Saudara ada dan berjalan seimbang di rumah
Saudara? Bagi Saudara apakah kebiasaan meminta maaf pada pasangan adalah hal
yang dapat dilakukan?
‘Buatlah
keputusan memilih jodoh dengan hati-hati dan diiringi doa...karena Anda sedang
mempertaruhkan diri Anda untuk selamanya’ –James C. Dobson
Jumat, 19 Oktober 2012
Mengatasi Masalah dengan ‘Bersukacita’
Filipi 4 : 4-7
Billy berusia 17 tahun pada saat seorang bekas petinju bayaran yang telah berubah menjadi penginjil, datang ke kota Charlote. Mordecai Ham, seorang penginjil yang berapi-api dan suka menunjuk orang-orang yang berdosa secara langsung.
Pemimpin-pemimpin Gereja di kota Charlote menganggap Mordecai Ham sebagai pengganggu. Mereka menolak permintaan izinnya untuk membangun sebuah tenda. Namun dengan pertolongan orang-orang awam, bekas petinju itu memasang tenda tepat di luar batas kota. Ia mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) selama beberapa minggu di kota tersebut.
Billy adalah seorang pemuda tinggi ramping, berambut ikal, dan pirang, setiap Minggu pergi ke gereja bersama orang tuanya yang saleh. Ia tidak merokok maupun minum-minuman keras. Walaupun ayahnya seorang pendukung kuat Mordecai Ham, Billy tidak bersusah-susah menghadiri sebelumnya, karena ada hal-hal lain yang harus dilakukannya.
Pengunjung Kebaktian Kebangunan Rohani itu cukup banyak bagi kota Charlote -- 5.000 orang. Orang-orang berkata bahwa itu merupakan jumlah terbesar yang pernah dialami penduduk Negara Bagian Carolina. Billy dan temannya di SMA berjalan melewati jalan kecil di antara deretan bangku dan duduk di bangku yang keras.
Khotbah yang disampaikan pengkhotbah berbadan besar itu sangat tidak berkesan bagi Billy, sampai pengkhotbah itu mengacungkan jari menunjuk ke arah Billy serta berteriak, "Kamu berdosa." Billy yang selalu siap menangkap bola tidak siap untuk main tangkap-tangkapan dengan pengkhotbah itu. Ia menundukkan kepalanya yang berambut pirang dan bersembunyi di belakang topi seorang wanita di depannya.
Dua malam kemudian Billy datang lagi, membawa seorang teman, namanya Albert McMakin. Selama beberapa malam seterusnya, kedua orang itu hadir bersama-sama. Penginjil yang berapi-api itu terus meyakinkan Billy bahwa ia harus memilih sorga atau neraka.
Pada suatu malam Billy membawa seorang teman lain, Grady Wilson. "Mari kita duduk di bagian paduan suara," usul Billy, walaupun ia tahu ia tidak dapat menyanyi. Maka kedua orang itu duduk di belakang mimbar (tempat paduan suara), selamat dari pandangan pengkhotbah yang suka memukul mimbar itu.
Mordecai Ham tidak menunjukkan jarinya kepada Billy malam itu, namun demikian Billy mendapat pukulan dari khotbahnya pada saat pengkhotbah itu berkata, "Malam ini, ada orang yang sangat berdosa di sini."
Ia mengatakan tentang saya, pikir Billy. Seseorang pasti telah memberi tahu dia bahwa saya ada di sini. Pengkhotbah itu mengakhiri khotbahnya dan memberi undangan bagi orang-orang yang mau bertobat. Billy menahan napasnya pada saat paduan suara itu mulai menyanyi. Setelah menyanyi sebentar, ia tidak dapat bertahan lagi. "Ayo, Grady," ia berkata kepada temannya.
Kedua orang itu turun dari paduan suara dan berdiri di depan. Mengingat keputusannya, Billy Graham berkata, "Hal itu seperti tinggal di luar pada hari yang gelap dan sinar matahari menembus melalui lapisan awan. Segalanya tampak berbeda. Untuk pertama kalinya, saya merasakan sukacita dilahirkan kembali."
Rasul Paulus
dalam ayat 4 juga berbicara mengenai sukacita. Sukacita itulah yang dimintanya
selalu kita lakukan karena ”bersukacita” adalah sebuah kata kerja bukan sekedar
perasaan. Kita bersukacita karena pertama,
tidak ada hal yang lebih penting dibandingkan keselamatan yang sudah kita
terima, yang patut kita kuatirkan. Sukacita itu sudah ada dalam hati kita.
Seperti yang dialami Billy Graham dan kita rasakan pertama kali kita mengaku
percaya, sukacita itulah yang terus harus kita rasakan. Memang rasanya tidak
mungkin kita tidak kuatir; meski kita sudah tahu, kita masih saja tidak bisa
menghilangkan kekuatiran. Pada saat seperti inilah kita hanya perlu bertindak
dalam iman; ’just don’t worry’ /berhenti
kuatir dan mulai bersukacita. Kedua,
kita hanya perlu meletakkan segala kekuatiran itu ke tangan Allah dalam doa dan
permohonan dengan ucapan syukur. Ketiga,
dengan bersukacita kita tidak hanya menghabiskan waktu untuk diri sendiri dan
memikirkan jalan keluar atas masalah kita sendiri tapi kita juga masih punya
waktu untuk membagikan kebaikan kepada orang lain.
Pertanyaan: Sudahkah
kita bersukacita melewati setiap persoalan?
Allah dapat menyembuhkan hati yang hancur, tetapi Ia
harus memiliki semua kepingannya.
Minggu, 07 Oktober 2012
Renungan Bulan Keluarga 8-12 Oktober 2012
Allah Pencipta dan Pemelihara Keluarga
Pengantar
Kita percaya bahwa keluarga diciptakan atas inisiatif Allah
sendiri. Ia mengatakan: ”Tidak baik
kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang
sepadan dengan dia...Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan
ibunya dan bersatu dengan istrinya...” (Kej 2:18,24). Ia yang menyatukan laki-laki
dan perempuan tentu Ia memiliki rencana di dalamnya. Sebagaimana rencana
keselamatan yang telah direncanakan-Nya dari kekal sampai kekal dalam Yesus,
pernikahan tentunya juga mempunyai maksud dan tujuan dalam kerangka keselamatan
tersebut. Dengan memasukkan pernikahan dalam ’kerangka keselamatan’ Allah
terhadap dunia ini, kita akan dapat lebih memahami tujuan pernikahan tersebut
dengan lebih baik.
Tujuan pernikahan
Kristen tentu saja berbeda dengan pernikahan-pernikahan bukan Kristen. Mereka
menikah seperti kebayakan orang, menikah lalu melahirkan anak, membesarkan
anak, menjadi tua, dan mewariskan apa yang ada. Pernikahan Kristen bukan
pernikahan seperti demikian. Pernikahan Kristen juga bukan hanya didasarkan
oleh kebutuhan seksual dan pribadi yang ingin bertanggung jawab terhadap
kebutuhannya tersebut, tetapi lebih daripada itu, Allah menginginkan kita
mengalami kebahagiaan melalui pernikahan.
Kebahagiaan
tersebut bukan hanya sebuah perasaan yang berorientasi pada diri sendiri, tapi
pada kebenaran Allah. Kebenaran Allah ada dalam firman-Nya yakni dalam Mat
18:19-20 mengatakan; ”Dan lagi Aku
berkata kepadamu: Jika dua orang
dari padamu di dunia ini sepakat meminta
apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang
di sorga. Sebab di mana dua atau
tiga orang berkumpul dalam
Nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka.” Jika kita perhatikan ulang, perkumpulan apakah
yang terdiri dari dua orang? Bukankah itu suami dan istri? Ataukah tiga orang?
Bukankah itu suami istri dan anak? Jadi jelaslah bagi kita jika suami dan istri
sepakat untuk berkumpul maka Allah ada di tengah-tengah mereka dan Allah akan
mengabulkan permitaan mereka. Bukankah ini adalah suatu kebahagiaan di mana
Allah hadir bersama dengan kita di tengah keluarga? Apakah yang kurang lagi
jika Dia milik kita? Apakah ada lagi yang kita inginkan dan tidak kita miliki
jika Bapa pemilik segalanya ada bersama dengan kita?
Paulus
mengatakan: ”Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia yang
tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita
semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita
bersama-sama dengan Dia?” (Rm 8:31-32).
Dan masih banyak
lagi ayat-ayat yang menyatakan bagaimana Allah mengasihi kita dan ingin kita
hidup di dalam kasih-Nya dan merasakan sukacita damai sejahtera karena
pergaulan kita dengannya, khususnya dalam keluarga kita.
Sebagai manusia
ciptaan-Nya, kita diminta untuk meresponi apa yang Allah telah sediakan. Dengan
meresponi dan menyediakan tempat bagi Allah dalam hubungan kekeluargaan kita,
kita pasti juga akan mengalami pertumbuhan dalam hidup seperti ranting pokok
anggur yang berbuah banyak. Kita juga tidak boleh lupa bahwa itu bisa kita
alami jika kita mau tinggal atau menempel pada pokok anggur yaitu Allah dalam
hubungan pernikahan kita. Menempel di sini berarti bahwa kita harus selalu
melakukan perintahNya seperti kasih dan ketundukan, kesepakatan dalam keluarga,
dll. Karenanya persekutuan keluarga itu penting di adakan dimana masing-masing
pribadi dalam keluarga menikmati hubungan bersama Allah dan juga mempererat
ikatan diantara semua anggotanya. Seperti sebuah piramida yang berujung pada
Allah, semua anggota keluarga bertujuan pada Allah. Semakin dekat setiap
anggota keluarga dengan Allah, semakin dekat juga satu dengan yang lainnya. Selamat
menikmati kasih Allah.
Senin, 8 Oktober 2012
Allah Pencipta Keluarga: Panggilan Allah
Matius 19:1-12
Suatu pagi ketika
selesai memimpin doa pagi di suatu gereja, saya duduk di samping gereja untuk
sedikit bersantai. Waktu itu saya belum menikah. Kebetulan di sana ada sebuah
bangku kayu panjang yang diletakkan tepat menghadap ke jalanan. Karena gereja
tersebut dekat dengan pasar, maka banyak orang yang lewat untuk pergi ke pasar.
Tanpa sengaja saya memperhatikan orang-orang yang sedang lewat di depan saya.
Dan anehnya mereka yang lewat selalu berpasangan pria dan wanita. Saya berpikir
mereka pasti adalah suami istri karena sepagi ini sudah bersama-sama. Ada yang
berjalan sambil bercengkrama dan sesekali saling berpandangan, ada yang
berjalan bergandengan tangan, ada juga yang berjalan depan belakang, ada yang
berjalan beriringan tapi tanpa bicara sepatah-kata pun hanya pandangan mereka
saja yang sama; lurus ke depan. Tiba-tiba muncul dalam pikiran saya, ”kenapa
mereka mau menikah?” Sambil terus memperhatikan setiap pasangan yang lewat.
”Apakah untuk selalu bersama?” Ada yang berpasangan dengan yang lebih tua, ada
yang lebih gemuk dari pasangannya, ada yang lebih tinggi dari pasangannya, dan saya
juga sering mendengar bahwa ada juga pasangan dimana pasangannya berasal dari
keluarga yang lebih berada. ”Apakah untuk memperbaiki keadaan?” Ada suami yang
membawakan keranjang belanjaan yang masih kosong dan pasangan yang lain si
istri yang membawa keranjang. ”Apakah untuk mendapatkan pertolongan?” Tapi saya tidak sempat melihat mereka kembali
lewat jalan yang sama atau tidak karena saya harus segera pergi dan melanjutkan
aktifitas. Sepanjang perjalanan, saya masih berfikir tentang orang-orang tadi, ”Kok
bisa ya yang lewat tadi semuanya berpasangan? Apa memang harus begitu?”
Dalam Kej 2
diceritakan bahwa Allah sendiri yang merancangkan bahwa setiap laki-laki
memiliki wanitanya sendiri. Hal ini tentu saja sudah menjadi natur (alamiah)
bagi manusia untuk memiliki pasangannya masing-masing. Kitab Amsal juga
memperlihatkan suatu hukum alam yang sama dimana jalan seorang laki-laki adalah
didampingi seorang gadis (Amsal 30:19). Jadi ada suatu kebutuhan yang tidak
dapat dielakkan bahwa seorang laki-laki harus berpasangan dengan seorang
wanita.
Lebih dalam lagi,
Tuhan Yesus, dalam bagian Alkitab yang kita baca, menegaskan bahwa ada peran
Allah dalam kesatuan laki-laki dan perempuan. Ini memperlihatkan bahwa
laki-laki dan perempuan diciptakan untuk dipersatukan. Dimana kesatuan ini
pertama-tama terjadi karena Allah ada di dalamnya. Allahlah yang
merancangkannya dan yang merestuinya (dengan mengantarkan seorang wanita bagi
Adam), sehingga apa yang dipersatukan Allah tidak dapat dipisahkan oleh
manusia. Mat 18:19 juga mengatakan bahwa Allah akan mengabulkan permintaan dua
orang yang ’sepakat’ meminta kepada-Nya. Selain itu Ef 5 juga mengatakan bahwa
kasih suami terhadap istrinya mencerminkan kasih Kristus yang memberikan
diri-Nya sendiri untuk mati bagi jemaat (yang dikasihi-Nya). Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa pernikahan adalah suatu hubungan yang spesial dimana
hubungan itu mencerminkan pribadi Allah sendiri dan suatu wadah potensial untuk
Allah bekerja dan memperlihatkan kuasa-Nya.
Akhirnya menikah
bukanlah hanya seputar kebutuhan yang memang ’dari sono’-nya saja melainkan
adalah suatu panggilan dari Allah Sang Pencipta.
Doa: -Bersyukur untuk pasangan yang Tuhan berikan
-Berdoa untuk calon pasangan hidup
anak-anak kita (berapa pun usia mereka), supaya Tuhan
pertemukan dengan pasangan yang
terbaik dan mereka Tuhan pertemukan di waktu yang tepat.
Kita
masing-masing adalah malaikat yang hanya memiliki satu sayap. Dan kita hanya
dapat terbang dengan saling berpelukan satu sama lain.
–Luciano de Crescenzo
Selasa, 9 Oktober
2012
Allah Pemelihara Keluarga: Janji Allah
MZM 92
Sebenarnya banyak
orang yang belum menikah penasaran apa yang akan terjadi di kehidupan pernikahan.
Suatu hari seorang pendeta berkata dengan wajah serius pada anak-anak di komisi
pemuda gerejanya; ”Kalian tahu tidak, menikah itu susah. Susahnya 5%!” lalu ada
yang nyeletuk dengan penasaran; ”Selebihnya yang 95% itu apa susah banget Pak?”
Pendeta itu menjawab; ”95% nya...(berhenti sejenak kemudian tersenyum)...uenak
banget!” Lalu semua tertawa, termasuk saya.
Gambaran
pernikahan yang tidak ideal kadang mengaburkan kebaikan dari pernikahan itu
sendiri. Apa yang kita alami di masa kecil dengan pernikahan orang tua kita, dan
gambaran yang diberikan masyarakat melalui media, membuat kita berpikir bahwa
menikah itu seringkali begitu buruk. Dan ini membuat kita sebagai anak-anak
dari orang tua kita, menjadi enggan untuk menikah.
Ada beberapa di
antara mereka sangat berhati-hati untuk jatuh cinta, ada yang memutuskan untuk
tidak menikah, dan ada juga yang karena terlanjur jatuh cinta berpikir, ”mau
gimana lagi jalani aja?”
Akhirnya banyak
pernikahan hanya sebagai suatu keharusan umum yang perlu dilaksanakan tanpa ada
niat untuk benar-benar berbahagia di dalam pernikahan nantinya.
Sesungguhnya,
pernikahan itu tidak terlalu semenyeramkan yang kita pikirkan. Jika kita
berusaha untuk selalu melakukan apa yang ’BENAR’(sesuai
firman Tuhan), pernikahan kita juga akan bertunas dan tumbuh subur bahkan pada
masa tua pun pernikahan kita masih menghasilkan kebahagiaan. Karena
sesungguhnya sebagai orang benar, Allahlah yang melakukan segala sesuatu bagi
kita. Ia berjanji untuk menyertai kita. Ia berkata: ”Janganlah
takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang,
sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan
akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan
tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Dan Ia yang menjanjikannya itu
setia (Ibr 10:23).
Kalau kita
berdiri di pinggir laut, kita dapat melihat garis lurus yang seolah-olah
membentang di kaki langit. Itulah garis cakrawala. Andaikata kita sekarang naik
kapal dan pergi ke tempat cakrawala berada, maka kita akan melihat bahwa di
tempat kita berdiri tadi di daratan, ada garis membentang juga yang disebut
cakrawala. Jelaslah bahwa cakrawala ada jauh di kaki langit sana, tetapi
cakrawala itu pun ada di dekat kita. Demikianpun Allah, Ia ada dimana pun kita
berada. Ia mendampingi kita.
Doa: Untuk
pernikahan kita dan untuk pernikahan anak-anak kita (sudah atau belum menikah).
Kabar
baiknya adalah...bahwa kabar buruk dapat diubah menjadi kabar baik...bila Anda
mengubah sikap Anda!
–Robert H. Schuller
Rabu, 10 Oktober 2012
Allah Pemelihara Keluarga & Tanggung Jawab Manusia
Kel 17 : 1-7
Berkeluarga juga
memerlukan biaya dari mulai menikah sampai kematian menjemput kita. Untuk itu
kita yang berkeluarga dituntut bertanggung jawab dalam memenuhi biaya-biaya
ini. Kita perlu bekerja untuk membayar biaya-biaya keluarga kita. Kita tidak
bisa hanya mengatakan; ”Tenang saja pasti Tuhan cukupkan!”. Ini seperti orang
yang butuh makan bubur berharap ada semangkok bubur hangat di depan mata, tapi
tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkannya. Paling tidak kita mengatakannya
pada istri atau suami kita, bahwa kita butuh makan bubur. Sehingga ada orang
lain yang mengusahakan jika memang kita sedang terbaring lemah karena sakit.
Sehubungan dengan
bekerja ada ungkapan bahasa latin; Ora et
Labora (yang biasanya ada di sampul depan Alkitab atau sengaja ditempelkan
orang). Kata ini berarti; berdoalah dan bekerja. Sebenarnya ada ungkapan bahasa
latin yang lain yang jarang digunakan yang seharusnya bisa diletakkan sebelum
kata ora et labora, yakni: kata Orare
Labora est. Kata ini berarti; berdoa adalah kerja/usaha. Dari kata ini kita
mengerti bahwa sebenarnya dengan berdoa kita telah melakukan pekerjaan. Dengan
kata lain, berdoa haruslah pertama-tama yang kita lakukan sebelum kita
melakukan sesuatu.
Dari bacaan kita
kali ini kita bisa melihat bagaimana Bangsa Israel menanggapi kebutuhannya. Bangsa
Israel tidak melakukan apa-apa untuk kebutuhannya akan air. Mereka hanya
menggerutu dan mengeluh bahkan bertengkar dengan Musa. Tapi Musa dengan segala
kemampuan dan keterbatasannya sebagai pemimpin bangsa Israel, berusaha
pertama-tama adalah berdoa. Ketika ada hal yang dibutuhkan, Ia berbicara dengan
Allah. Dan Tuhan mengabulkan permintaanya dengan menyuruhnya untuk ’memukul
batu’. Pekerjaan yang sepele dan terlihat tidak ’hebat’ (spektakuler) sama
sekali, tapi memperlihatkan kehebatan Allah yang luar biasa. Dan ini sering
sekali terjadi dalam pergumulan Musa bersama Tuhan ketika memimpin Bangsa
Israel keluar dari Mesir.
Barangkali berdoa
adalah suatu yang tidak lumrah bagi manusia yang memiliki kekuasaan dan uang.
Mereka berpikir bahwa mereka bisa melakukan segalanya karena mereka bisa
menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk membayar orang untuk melakukan sesuatu
baginya. Mereka juga menggangap semua keberhasilan adalah hasil usaha sendiri. Sebaliknya,
orang yang tidak memiliki kekuasaan dan uang barangkali seringnya hanya
mengeluh bahkan bertengkar dengan anggota keluarganya jika mengalami
kekurangan. Suami dan istri bertengkar mengenai siapa yang harus bertanggung
jawab, dan anak-anak bertengkar dengan orang tua karena orang tua tidak
memenuhi kebutuhan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keuangan
keluarga mereka. Orang benar tidak demikian. Kita dituntut untuk meletakkan
Tuhan di atas segalanya. Dengan berdoa, kita tidak hanya memberitahukan pada
Tuhan apa yang kita butuhkan, meminta Ia menyertai kita supaya berhasil, tapi
juga menyatakan bahwa kita merelakan Allah bekerja bagi kita. Dengan berdoa, seandainya
pun kita mengalami kegagalan, kita percaya Tuhan sedang menyiapkan suatu jalan
yang lain, yang Ia ingin kita jalani. Pada saatnya nanti Ia akan menuntun kita
ke sana. Jadi kita tidak boleh seperti bangsa Israel. Janganlah putus asa dalam
pekerjaan kita saat ini. Karena jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh
seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, Tuhan dan manusia (pemimpin) akan
’melihat’ bahwa kita layak untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, karena
memberikan hasil pekerjaan yang lebih baik.
Doa: Untuk ekonomi keluarga dan usaha atau
pekerjaan yang sedang kita lakukan.
Kamis, 11 Oktober 2012
Allah Pemelihara Keluarga: Rasa Cukup
Ibr 13:5-17
Apa yang dimaksud
’cukup’?
Suami saya pernah
mengatakan joke; ”Ya kalau mau belanja...cukup!, untuk bayar sekolah anak...cukup!,
mau jalan-jalan...cukup! Mau ke luar negeri juga...cukup!” Saya tertawa tapi
dalam hati saya berpikir ’iya ada benernya tapi apa begitu yang dimaksud firman
Tuhan?’.
Ibr 13:5a mengungkapkan:
”Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang
ada padamu”. Arti kata ’cukup’ di sini (sesuai bahasa aslinya arkoumenoi) adalah: merasa penuh/tidak
ada yang kurang (contentment).
Rupanya perasaan inilah yang memotivasi seseorang untuk tidak menjadi hamba
uang. Hamba uang merupakan suatu keinginan untuk memberikan yang terbaik demi
uang, melakukan segala sesuatu demi uang (cinta uang) dan akhirnya uang menjadi
tuan yang mengendalikan hidup orang tersebut. Bahkan uang mampu mengambil
waktu-waktu hidup yang kita miliki dengan terus bekerja tanpa memikirkan hal
lainnya. Dengan merasa penuh/tidak
ada yang kurang, kita akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.
Kita dapat mengatur apa yang perlu dan yang tidak perlu dimiliki atau
dilakukan. Dan kita juga akan memiliki banyak waktu luang untuk bersyukur dan
berbahagia, tanpa merasa kuatir akan menyia-nyiakan waktu.
Waktu kuliah dulu, kalau sedang tidak ada yang dilakukan,
saya sering memandang keluar jendela kamar saya di lantai 3 dan melihat apa
yang bisa di lihat di halaman belakang asrama kampus. Suatu sore, ketika saya
sedang merasa bosan tinggal di asrama, saya mengulangi kebiasaan ini dan saya belajar
satu hal tentang bersyukur. Kebetulan saya melihat bapak pengangkut sampah
asrama kami lewat di depan pintu gerbang belakang asrama. Rupanya kali ini dia
tidak sendirian, ia membawa serta anaknya laki-laki yang masih kecil dan
didudukan di dalam gerobak sampah. Sambil mengangkuti sampah ke dalam gerobak
sesekali bapak ini bicara dengan anaknya. Sembari bercengkrama, mereka kadang
tertawa. Melihat mereka tertawa, saya jadi tersenyum. Betapa saya tidak
bersyukur dengan tinggal di asrama ini dimana semuanya sudah tersedia, saya
masih merasa bosan dan tidak bahagia. Saya malu dengan mereka yang hidup apa
adanya tapi masih bisa tertawa. Ah rupanya bersyukur bukan sesuatu yang berat
jika yang kita lihat adalah kebaikan.
Tuhan itu baik. Jika kita renungkan lebih dalam tentang apa
yang Tuhan perbuat dalam hidup kita, apakah yang begitu menyusahkan kita?
Lihatlah kebaikan dari setiap peristiwa, maka beban-beban hidup kita akan
terlepas dan kita akan merasa bebas. Tuhan berkata: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku
sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (ayat 5b). Sambil tersenyum,
kita dapat berkata: “Terima kasih Tuhan!”
"Syukur adalah vaksin (untuk kekebalan tubuh), antitoksin (untuk menetralisir racun), dan antiseptik (untuk mencegah infeksi)."
- John Henry Jowett
Jumat, 12 Oktober
Seni Merayakan Hidup
Lukas 16:19-31
Permulaan yang
hebat tidak sepenting cara seseorang menyelesaikannya. Hidup juga harus dilihat
bukan depannya, tengah, tapi akhirnya. Seperti menulis sebuah obituari
(pemberitahuan kematian disertai riwayat singkat), setiap orang akan dikenang
pada saat akhir hidupnya. Ada hal-hal penting yang akan diingat orang ketika
kita tidak ada lagi di dunia ini. Tanpa memperhatikan hal ini, kita akan
mengorientasikan pandangan hidup kita kepada hal-hal sementara dan pemuasan
nafsu belaka. Memang hidup kita adalah pilihan kita sendiri, tidak ada seorang
pun yang bisa memaksa kita bagaimana kita harus menjalani hidup ini. Namun pada
saatnya nanti ketika kita di hadapkan pada pengadilan Allah, kita semua harus
memberikan pertanggungan jawab. Jangan sampai ada penyesalan di sana.
Kehidupan orang kaya itu dihabiskan dengan gaya
hidup yang berpusat pada diri sendiri. Ia membuat pilihan yang salah dan menderita selama-lamanya (Luk 16:22-23). Seumur hidupnya Lazarus hidup
dalam kemiskinan, namun hatinya benar di hadapan Allah. Nama Lazarus berarti
"Allah adalah pertolonganku", dan ia tidak pernah melepaskan imannya
kepada Allah. Ia mati dan segera diangkat ke Firdaus bersama Abraham (Luk 16:22; lih. Luk 23:43; Kis 7:59; 2Kor 5:8; Fili 1:23). Akhir riwayat kedua orang itu
tidak dapat diubah lagi pada saat kematian (Luk 16:24-26).
Berikut adalah contoh beberapa hidup orang yang berhasil
menurut pandangan dunia, tapi akhir hidupnya menyedihkan.
Pada tahun 1923, suatu pertemuan penting diadakan
di Hotel Pantai Edgewater di Chicago, Amerika. Yang hadir adalah delapan orang raksasa dalam bidang keuangan yang
terkuat di dunia. Antara lain:
1. Presiden dari perusahaan baja terbesar
2. Presiden dari perusahaan gas terbesar
3. Spekulan gandum terbesar
4.
Presiden dari Bursa Saham New York
5. Anggota kabinet presiden Amerika
6. “Beruang” terbesar di Wall Street
7. Kepala dari monopoli terbesar di dunia
8. Presiden dari Bank of International
Settlements.
Pada akhir hidup mereka:
1. Presiden
dari perusahaan independen terbesar, Charles Schwab, mati dalam keadaan
bangkrut, setelah hidup dengan hutang selama lima tahun terakhir sebelum
kematiannya.
2.
Presiden dari perusahaan gas terbesar, Howard Hopson, menjadi gila.
3.
Spekulan gandum terbesar, Arthur Cotton, meninggal di luar negeri, dalam
keadaan bangkrut
4. Presiden dari bursa Saham New York , Richard Whitney, masuk ke penjara Sing-sing
5. Anggota kabinet presiden, Albert
Fall, dibebaskan dari penjara agar ia bisa mati di rumah.
6.
“Beruang” terbesar di Wall Street, Jesse Livermore,
mati bunuh diri.
7. Kepala
monopoli terbesar, Ivan Krueger, mati bunuh
diri.
8. Presiden
dari Bank Penyelesaian-penyelesaian
Internasional, Leon Fraser, mati
bunuh diri.
Seni merayakan
hidup adalah cara kita menggambar hidup di dunia ini, titik demi titik, tiap
hari tiap detik, dengan mengikuti irama Allah yang berpusat pada kekekalan. Apa
yang terjadi dalam hidup kita sekarang ini, suka maupun duka, di setiap musim
kehidupan yang berbeda, kita percaya bahwa Allah senantiasa ada dan menolong
kita sampai akhir. Dan pada saatnya nanti ketika kita tidak ada lagi di
dunia ini, kita bisa melihat bagaimana akhir dari gambar yang kita buat dan
Allah dapat berkata: "Mereka
boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka
menyertai mereka" (Why 14:13 ).
![]() |
| Gambar dari banyak titik, membentuk satu gambar wajah |
Seni Hidup
Tidak ada manusia di dunia
Yang mendapatkan segala yang
dikehendakinya
Mau tidak mau setiap manusia
Harus memanfaatkan keadaan yang
ada sebaik-baiknya
Maka setiap orang memiliki suka
duka
Seni hidup adalah mencampur tawa dan air mata
-Robert
Louis Stevenson
Langganan:
Postingan (Atom)







